Selasa, 04 April 2017

BAB II TELAAH PUSTAKA

BAB II
TELAAH PUSTAKA

Kebun Raya Bogor

Kebun Raya adalah kumpulan tumbuh-tumbuhan di suatu tempat, dan tumbuh-tumbuhan tersebut berasal dari berbagai daerah yang ditanam untuk tujuan konservasi.
Kebun Raya adalah suatu kawasan konservasi tumbuhan secara ex situ. Pelestarian ex situ adalah pelestarian yang dilakukan dengan memindahkan hewan atau tumbuhan dari habitat asli ke tempat lainnya. Pelestarian ini bisa berupa pelestarian di kebun plasma nutfah, kebun botani, kebun binatang.
Ex situ adalah konservasi flora dan fauna yang dilakukan di luar habitat asli, namun kondisinya diupayakan sama dengan habitat aslinya. Perkembangbiakan hewan di kebun binatang merupakan upaya pemeliharaan ex situ. Jika berhasil dikembangbiakan, sering kali organisme tersebut dikembalikan ke habitat aslinya. Contohnya, setelah berhasil ditangkar secara ex situ, jalak Bali dilepaskan ke habitat aslinya di Bali. Misalnya: konservasi flora di Kebun Raya Bogor dan konservasi fauna di suaka margasatwa Way Kambas, Lampung.
Ada beberapa macam kawasan konservasi tumbuhan secara ex situ, namun Kebun Raya memiliki kekhasan tersendiri sebagaimana dapat dilihat pada definisi dan karakteristiknya. Salah satu karakteristik yang paling menonjol adalah adanya sistem pendokumentasian pada koleksi tumbuhannya. Selain itu, Kebun Raya juga melakukan penelitian (tumbuhan di bidang taksonomi, pendayagunaan dan budidaya), melakukan pendidikan terhadap masyarakat tentang tumbuhan, lingkungan hidup dan pertamanan serta berfungsi sebagai tempat wisata lingkungan.
Jenis-jenis tumbuhan yang akan ditanam di Kebun Raya, mempunyai kriteria tertentu. Tumbuhan tersebut dikoleksi melalui beberapa tahapan dan kelengkapan data dijadikan sebagai kriteria utama. Penataan koleksi ditanam di kebun dilakukan dengan kaidah-kaidah ilmu pertamanan, sehingga nampak indah. Keindahan dan informasi ilmiah yang terkandung dalam koleksi tumbuhan merupakan daya tarik utama dari sebuah Kebun Raya.
Penelitian taksonomi/tata nama tumbuhan, pendayagunaan dan perbanyakan koleksi terus menerus dilakukan untuk tujuan konservasi, pendidikan, dan pengembangan nilai ekonomi. Pemasangan papan interpretasi pada taman dan lokasi yang berdekatan dengan koleksi bernilai ekonomi, menjadikan Kebun Raya tidak hanya sekedar sebagai tempat wisata, tetapi sebagai tempat pendidikan.
Pengembangan Kebun Raya dimulai dengan pembangunan sarana dan  rasarana pembibitan, yang diikuti dengan penyiapan lahan dan pembangunan fisik kebun mengikuti pola dan tema yang tertuang di dalam Masterplan. Pembibitan dilakukan dengan penyiapan lahan di tempat yang telah ditentukan, termasuk pembuatan jalur sirkulasi untuk memudahkan distribusi tumbuhan. Pembibitan mencakup 2 kategori, yaitu pembibitan tumbuhan koleksi dan pembibitan bukan tumbuhan koleksi untuk tujuan penghijauan dan pertamanan.


Sumber : http://kurrotuluyun.blogspot.co.id/2012/10/macam-perlindungan-alam-dengan-tujuan.html’

Nama : Endang Wulandari
NPM : 22313905
Kelas : 4TB06
Matkul : Konservasi Arsitektur

BAB I PENDAHULUAN

BAB I
PENDAHULUAN

Kebun raya Bogor merupakan sebuah proyek ‘Samida’ atau sebuah Hutan buatan yang berdiri pada masa kerajaan Padjajaran yaitu, masa pemerintahan Prabu Siliwangi, yang di kenal sebagai salah satu Kerajaan Sunda, seperti yang tertulis di prasasti Batutulis. Hutan itu dibuat yang dimaksud untuk melestarikan kebutuhan manusia pada masa itu terhadap kayu. Mengingat sangat terbatasnya alat transportasi pada masa itu. Hingga Gubernur Jenderal van der Capellen membangun rumah peristirahatan di salah satu sudutnya pada pertengahan abad ke-18.

Dan di sekitar awal Tahun 1800, seorang pembesar belanda di Bogor, yaitu Thomas Stamford Raffles yang menjabat Sebagai Gubernur. Ia sangat memiliki ketertarikan pada bidang Botani atau dunia tanaman. Berdasarkan pemikirantersebut, ia pun mulai berfikir dan membangun halaman istana Bogor menjadi sebuah taman yang cantik. Karena pada saat itu ia salah seorang yang mendiami Istana Bogor. Dan langsung saja ia menyulap taman itu menjadi sebuha kebun yang bernuansa Inggris.

Sejarah Berdirinya Kebun Raya Bogor

Kebun Raya Bogor

Pada tahun 1814 Olivia Raffles (istri dari Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles) meninggal dunia karena sakit dan dimakamkan di Batavia. Sebagai pengabadian, monumen untuknya didirikan di Kebun Raya Bogor. Ide pendirian Kebun Raya bermula dari seorang ahli biologi yaitu Abner yang menulis surat kepada Gubernur Jenderal G.A.G.Ph. van der Capellen. Dalam surat itu terungkap keinginannya untuk meminta sebidang tanah yang akan dijadikan kebun tumbuhan yang berguna, tempat pendidikan guru, dan koleksi tumbuhan bagi pengembangan kebun-kebun yang lain.
Prof. Caspar Georg Karl Reinwardt adalah seseorang berkebangsaan Jerman yang berpindah ke Belanda dan menjadi ilmuwan botani dan kimia. Ia lalu diangkat menjadi menteri bidang pertanian, seni, dan ilmu pengetahuan di Jawa dan sekitarnya. Ia tertarik menyelidiki berbagai tanaman yang digunakan untuk pengobatan. Ia memutuskan untuk mengumpulkan semua tanaman ini di sebuah kebun botani di Kota Bogor, yang saat itu disebut Buitenzorg (dari bahasa Belanda yang berarti “tidak perlu khawatir”). Reinwardt juga menjadi perintis di bidang pembuatan herbarium. Ia kemudian dikenal sebagai seorang pendiri Herbarium Bogoriense.
Pada tahun 18 Mei 1817, Gubernur Jenderal Godert Alexander Gerard Philip van der Capellen secara resmi mendirikan Kebun Raya Bogor dengan nama ’s Lands Plantentuin te Buitenzorg. Pendiriannya diawali dengan menancapkan ayunan cangkul pertama di bumi Pajajaran sebagai pertanda dibangunnya pembangunan kebun itu, yang pelaksanaannya dipimpin oleh Reinwardt sendiri, dibantu oleh James Hooper dan W. Kent (dari Kebun Botani Kew yang terkenal di Richmond, Inggris).
Sekitar 47 hektare tanah di sekitar Istana Bogor dan bekas samida dijadikan lahan pertama untuk kebun botani. Reinwardt menjadi pengarah pertamanya dari 1817 sampai 1822. Kesempatan ini digunakannya untuk mengumpulkan tanaman dan benih dari bagian lain Nusantara. Dengan segera Bogor menjadi pusat pengembangan pertanian dan hortikultura di Indonesia. Pada masa itu diperkirakan sekitar 900 tanaman hidup ditanam di kebun tersebut.
Pada tahun 1822 Reinwardt kembali ke Belanda dan digantikan oleh Dr. Carl Ludwig Blume yang melakukan inventarisasi tanaman koleksi yang tumbuh di kebun. Ia juga menyusun katalog kebun yang pertama berhasil dicatat sebanyak 912 jenis (spesies) tanaman. Pelaksanaan pembangunan kebun ini pernah terhenti karena kekurangan dana tetapi kemudian dirintis lagi oleh Johannes Elias Teysmann (1831), seorang ahli kebun istana Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch. Dengan dibantu oleh Justus Karl Hasskarl, ia melakukan pengaturan penanaman tanaman koleksi dengan mengelompokkan menurut suku (familia). Teysmann kemudian digantikan oleh Dr. Rudolph Herman Christiaan Carel Scheffer pada tahun 1867 menjadi direktur, dan dilanjutkan kemudian oleh Prof. Dr. Melchior Treub.
Pendirian Kebun Raya Bogor bisa dikatakan mengawali perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Dari sini lahir beberapa institusi ilmu pengetahuan lain, seperti Bibliotheca Bogoriensis (1842), Herbarium Bogoriense (1844), Kebun Raya Cibodas (1860), Laboratorium Treub (1884), dan Museum dan Laboratorium Zoologi (1894).
Pada tanggal 30 Mei 1868 Kebun Raya Bogor secara resmi terpisah pengurusannya dengan halaman Istana Bogor. Pada mulanya kebun ini hanya akan digunakan sebagai kebun percobaan bagi tanaman perkebunan yang akan diperkenalkan ke Hindia-Belanda (kini Indonesia). Namun pada perkembangannya juga digunakan sebagai wadah penelitian ilmuwan pada zaman itu (1880 – 1905).
Kebun Raya Bogor selalu mengalami perkembangan yang berarti di bawah kepemimpinan Dr. Carl Ludwig Blume (1822), JE. Teijsmann dan Dr. Hasskarl (zaman Gubernur Jenderal Van den Bosch), J. E. Teijsmann dan Simon Binnendijk, Dr. R.H.C.C. Scheffer (1867), Prof. Dr. Melchior Treub (1881), Dr. Jacob Christiaan Koningsberger (1904), Van den Hornett (1904), dan Prof. Ir. Koestono Setijowirjo (1949), yang merupakan orang Indonesia pertama yang menjabat suatu pimpin lembaga penelitian yang bertaraf internasional.

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Kebun_Raya_Bogor


Nama : Endang Wulandari
NPM : 22313905
Kelas : 4TB06
Matkul : Konservasi Arsitektur




Senin, 02 Januari 2017

Kritik Arsitektur Bangunan Kolonial

Nama   : Endang Wulandari
NPM   : 22313905
Kelas   : 4TB06
Dosen  : Edi Sutomo
Tugas Kritik Arsitektur #
Kritik Arsitektur terhadap Gereja Katedral Jakarta dan Gereja Blenduk ini menggunakan metode Kritik Normatif dengan Metode Typical.
Kritik Typical/ Typical Criticism merupakan sebuah metode kritik yang termasuk dalam Kritik Normatif. Metode ini menggunakan perbandingan. Maksudnya adalah membandingkan obyek yang dianalisis dengan bangunan sejenis lainnya.
Obyek : Gereja Katedral Jakarta
Bangunan Pembanding Sejenis : Gereja Blenduk
Pengertian Arsitektur Kolonial
            Arsitektur Kolonial merupakan sebutan singkat untuk langgam Arsitektur yang brkembang selama masa pendudukan Belanda di Indonesia.
a.      Gereja Katedral Jakarta
Nama               : Gereja Katedral Jakarta
Nama Resmi    : De Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming
Lokasi             : Jakarta, Indonesia
Diresmikan      : 21 April 1901
Arsitek             : Antonius Dijkmans
Gaya Arsitektur: Neo-gotik
   

Museum Katedral Jakarta ini diresmikan pada tanggal 28 April 1991 oleh Mgr Julius Darmaatmadja. Pembuatan museum Katedral diprakarsai oleh pastor kepala Katedral pada waktu itu, yaitu Pater Rudolf Kurris. Hal ini berawal dari rasa cinta Kurris terhadap sejarah dan benda-benda bersejarah. Menurutnya, benda-benda bersejarah itu dapat membangkitkan rasa kagum manusia terhadap masa lampau dan keinginannya menyalurkan pengetahuan dari generasi ke generasi. Museum Katedral ini berada di ruang balkon Katedral.
·         Isi Museum Katedral:
- Teks doa berbingkai: Dua versi buku misa berbahasa Latin yang dipakai pada masa pra-Vatikan II.
- Mitra dan tongkat gembala Paus Paulus VI
- Piala dan Kasula Paus Yohanes Paulus II
- Replika Pastoran
- Perangko
- Lukisan dari batang pohon pisang karya Kusni Kasdut
- Replika perahu Pastor P. Bonnike, SJ
- Relikui santo & santa
- Orgel Pipa asli katedral
Arsitektur gereja katedral Jakarta ini dibuat dengan gaya neo-gotik.  Denah dengan bangunan berbentuk salib dengan panjang 60 meter dan lebar 20 meter. Pada kedua belah terdapat balkon selebar 5 meter dengan ketinggian 7 meter. Konstruksi bangunan ini dikerjakan oleh seorang tukang batu dari Kwongfu, China. konstruksi bangunan ini terdiri dari batu bata tebal yang diberi plester dan berpola seperti susunan batu alam. Dinding batu bata ini menunjang kuda-kuda kayu jati yang terbentang selebar bangunan.
        

Ada 3 menara di Gereja Katedral, yaitu: Menara Benteng Daud, Menara Gading dan Menara Angelus Dei. Menara ini dibuat dari besi. Bagian bawah didatangkan dari Nederland dan bagian atas dibuat di bengkel Willhelmina, Batavia.
Di menara gading terdapat jam yang pada mesinnya tertulis Van Arcken & Co. Lonceng: Pada menara Benteng Daud terdapat lonceng yang dihadiahkan oleh Clemens George Marie van Arcken. Pada menara Gading terdapat lonceng yang lebih kecil dan disumbankan oleh Tuan Chasse. Lonceng yang terbesar bernama Wilhelmus yang merupakan hadiah dari Tuan J.H. de Wit. Patung Kristus Raja: berada di halaman depan gereja.
Goa Maria: Bentuk fisiknya mirip dengan Goa Maria di Lourdes Perancis. Goa ini terdapat di halaman samping gereja. Pintu Masuk Utama: terdapat patung Maria dan ada tulisan Beatam Me Dicentes Omnes' yang berarti "Semua keturunan menyebut aku bahagia". Rozeta: merupakan jendela bercorak Rosa Mystica sebagai lambang dari Bunda Maria. Benda ini terletak di atas gerbang utama.

b.      Gereja Blenduk
Nama               : Gereja Blenduk / Gereja Blendug / mBlendhug
Nama Resmi    : GPIB Immanuel
Lokasi             : Semarang, Jawa Tengah, Indonesia
Didirikan         : 1753
Gaya Arsitektur : Baroque
Gereja Blendhuk adalah gereja Kristen Protestan tertua di Jawa Tengah yang dibangun pada tahun 1753 dan bergaya arsitektur baroque. Gereja ini mendapat namanya karena kubah bulatnya di bagian atasnya yang dahulu dilapisi perunggu. Nama sesungguhnya dari gereja ini adalah GPIB Immanuel. Hingga kini, bangunan gereja ini tetap digunakan dan menjadi ikon kota Semarang selain Lawang Sewu.

Gereja Blenduk (kadang-kadang dieja Gereja Blendug dan seringkali dilafazkan sebagai mBlendhug) adalah Gereja Kristen tertua di Jawa Tengah yang dibangun oleh masyarakat Belanda yang tinggal di kota itu pada 1753, dengan bentuk heksagonal (persegi delapan). Gereja ini sesungguhnya bernama Gereja GPIB Immanuel, di Jl. Letjend. Suprapto 32. Kubahnya besar, dilapisi perunggu, dan di dalamnya terdapat sebuah orgel Barok. Arsitektur di dalamnya dibuat berdasarkan salib Yunani. Gereja ini direnovasi pada 1894 oleh W. Westmaas dan H.P.A. de Wilde, yang menambahkan kedua menara di depan gedung gereja ini. Nama Blenduk adalah julukan dari masyarakat setempat yang berarti kubah. Gereja ini hingga sekarang masih dipergunakan setiap hari Minggu. Di sekitar gereja ini juga terdapat sejumlah bangunan lain dari masa kolonial Belanda.


Kesimpulan     :
1.  Kedua banguna Gereja tersebut merupakan bangunan peninggalan masa colonial Belanda.
2.     Gereja Katedral Jakarta didirikan dengan gaya arsitektur neo-gotik, sedangkan Gereja Blenduk menggunakan gaya Arsitetur Baroque.
3.  Gedung Katedral Jakarta merupakan Gereja untuk afiliasi agama Kristen Katolik sedangkan Gereja Blenduk untuk agama Kristen Protestan.
4.      Kedua gereja tersebut merupakan gereja yang masih aktif hingga saat ini.

Di Indonesia sendiri masih banyak terdapat bangunan-bangunan peninggalan pada masa kolonial lainnya. Sebagai masyarakat, sudah sepatutnya kita merawat peninggalan sejarah tersebut.

Sumber            :

Rabu, 09 November 2016

[Kritik Arsitektur dengan Metode Typical] Green Building

 Nama    : Endang Wulandari
NPM     : 22313905
Kelas    : 4TB06
Dosen: Edi Sutomo
Tugas Kritik Arsitektur #
Kritik Arsitektur terhadap Gedung Wisma Dharmala / Intiland Tower dan Sequis Center ini menggunakan metode Kritik Normatif dengan Metode Typical.

Kritik Typical/ Typical Criticism merupakan sebuah metode kritik yang termasuk dalam Kritik Normatif. Metode ini menggunakan perbandingan. Maksudnya adalah membandingkan obyek yang dianalisis dengan bangunan sejenis lainnya.


Obyek : Wima Dharmala Jakarta / Intiland Square
Bangunan Pembanding Sejenis : Sequis Center

a. Wisma Dharmala Jakarta
a.       Bangunan        : Wisma Dharmala Jakata / Intiland Tower
Lokasi             : Jl. Jendral Sudirman Kav 32
Type                : Kantor
Arsitek            : Paul Rudolph (USA)
Jumlah Lantai : 26 lantai
Tahun              : 1982 – 1986
Pemilik                        : PT. Intiland Development Tbk
Pengelola         : PT. Intiland Development Tbk (IHMP)


Dikenal dengan nama Wisma Dharmala, berganti nama menjadi Intiland Tower. Rudolph menunjukkan kemampuan untuk menciptakan ruang publik dan bagus dalam bangunan yang diatasnya memiliki menara perkantoran besar. Rudolph terinspirasi dari bentuk atap - atap di Indonesia yang memiliki overstek karena merespon iklim tropisnya, sehingga apabila di dalam gedung tidak akan secara langsung diterpa cahaya matahari. Juga terdapat void yang cukup besar sehingga udara sejuk masih terasa di dalamnya tanpa kehujanan saat merasakannya.

Pada perencanaan awal, bangunan ini tidak menggunakan pendingin ruangan. Namun seiring berjalannya waktu dan efek rumah kaca telah memberi panas yang cukup parah dan tidak menentu. Akhirnya bangunan ini menggunakan pendingin ruangan. Hal tersebut tidak berlaku pada koridor bangunan karena udara sejuk masih dapat masuk. Pencahayaan lampu pada siang hari juga tidak diperlukan pada koridor karena cahaya matahari masih dapat masuk tanpa pengguna merasa terik maupun kehujanan.
Struktur yang digunakan pada bangunan Wisma Dharmala atau Intilan Tower menggunakan struktur beton bertulang dan baja.

   


b. Sequis Center Jakarta
a.      Bangunan        : Sequis Center  Jakarta
Lokasi             : Sequis Center Kav 57, Jl. Jend. Sudirman, Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta
Type                : Kantor
Arsitek            : KPF
Jumlah Lantai : 39 lantai (210 m)
Tahun              : Berdiri sejak 1980 (awalnya bernama Widjojo Center)
Pemilik            : PT. Persero Realty, Jakarta, Indonesia


Perkantoran yang konstruksinya selesai pada tahun 1980 telah menerapkan operasionalisasi gedung berbasis hijau dengan tolak ukur GREENSHIP Existing Building 1.0 dari Green Building Council Indonesia (GBCI). Sejak diterapkannya operasional gedung berbasis hijau dengan tolak ukur GREENSHIP Existing Building 1.0, Sequis Center berhasil mencapai penghematan penggunaan listrik hingga 28, 12 persen dari baseline, dan penghematan penggunaan air hingga 28,16 persen. Upaya lain yang dilakukan antara lain material resources and cycle (siklus dan sumber daya material) lewat pengelolaan sampah.

 

Sequis Center termasuk gedung pertama di Indonesia yang menerapkan konsep bangunan hijau melalui penggunaan bahan GRC (Glassfiber Reinforce Cement) sebagai shading pada fasad bangunan. Keunikan bentuk shading pada fasad gedung ini juga berfungsi mengurangi interaksi langsung sinar matahari yang mendukung efisiensi penggunaan pendingin ruangan.

Kesimpulan:
1.      Wisma Dharmala / Intiland Tower bukan merupakan bangunan bersertifikasi GBCI seperti Sequis Center, namun Intiland Tower sudah menerapkan lima dari enam aspek arsitektur hijau.
2.      Kedua bangunan ini sama - sama fokus agar tidak adanya penggunaan pendingin ruangan namun pada Wisma Dharmala / Intiland Tower beberapa ruangan mulai menggunakan pendingin ruangan.
3.      Pada Sequis Center penggunaan GRC digunakan sebagai shading yang berfungsi mengurangi interaksi langsung sinar matahari.
4.      Jika dilihat dari bangunannya sistem shading yang digunakan sama pada kedua bangunan.

Di Indonesia sendiri masih belum banyak bangunan ramah lingkungan. Namun dengan adanya bangunan seperti Wisma Dharmala / Intiland Tower dan Sequis Center diharapkan mampu menjadi contoh agar gedung - gedung lain yang berada di Indonesia dapat menerapkan Arsitektur Hijau pada bangunan yang sudah maupun nantinya akan didirikan.
Sumber            :






Selasa, 27 September 2016

Kritik Arsitektur (Kritik Normatif)



Nama : Endang Wulandari
NPM : 22313905
Kelas : 4TB06
Dosen: Edi Sutomo
Tugas Kritik Arsitektur #

Ada 3 macam metoda kritik dalam arsitektur, diantaranya kritik normatif, kritik deskriptif, dan kritik interpretif.
Kritik Arsitektur (Metode Kritik Normatif : Typical)

Hakikat kritik normatif adalah :
·         Adanya keyakinan (conviction) bahwa di lingkungan dunia manapun, bangunan dan wilayah perkotaan selalu dibangun melalui suatu model, pola, standard atau sandaran sebagai sebuah prinsip.
·         Dan melalui ini kualitas dan kesuksesan sebuah lingkungan binaan dapat dinilai.
·         Norma bisa jadi berupa standar yang bersifat fisik, tetapi adakalanya juga bersifat kualitatif dan tidak dapat dikuantifikasikan.
·         Norma juga berupa sesuatu yang tidak konkrit dan bersifat umum dan hampir tidak ada kaitannya dengan bangunan sebagai sebuah benda konstruksi

Kritik Normatif terbagi dalam 4 metode yaitu :  
1.      Kritik Doktrinal (Doctrinal Criticsm) Norma yang bersifat general, pernyataan yang tak terukur.
2.      Kritik Sistematik (Systematic Criticism) Norma penyusunan elemen-elemen yang saling berkaitan untuk satu tujuandalam hal ini akan dibahas mengenai metode Tipe. Metode Tipe adalah suatu norma yang didasarkan pada model yang digenralisasi untuk satu kategori bangunan spesifik.
3.      Kritik Tipical (Typical Criticism) Norma yang didasarkan pada model yang digeneralisasi untuk satu katagori bangunan yang spesifik.
4.      Kritik Terukur (Measured Criticsm) Sekumpulan dugaan yang mampu mendefinisikan bangunan dengan baik secara kuantitatif.

1. Metoda Doktrin
  • Doktrin sebagai dasar dalam pengambilan keputusan desain arsitektur yang berangkat dari keterpesonaan dalam sejarah arsitektur.
  • Sejarah arsitektur dapat meliputi : Nilai estetika, etika, ideologi dan seluruh aspek budaya yang melekat dalam pandangan masyarakat.
  • Doktrin bersifat tunggal dalam titik pandangnya dan biasanya mengacu pada satu ‘ISME’ yang dianggap paling baik.

2. Metoda Sistemik
  • Menggantungkan pada hanya satu prinsip akan mudah diserang sebagai : menyederhanakan (simplistic), tidak mencukupi (inadequate) atau kadaluarsa (out of dated )
  • Alternatifnya adalah bahwa ada jalinan prinsip dan faktor yang dapat dibangun sebagai satu system untuk dapat menegaskan rona bangunan dan kota.
Kritik sistematik dikembangkan dari satu analisis :
  • Bahwa Problem arsitek adalah membangun sistem dalam kategori-kategori formal yang tidak memungkinkan kita untuk melukiskannya dan membandingkannya dalam struktur yang formal. Ketika kita mengatakan bahwa analisis formal mengandung indikasi elements and relations.
  • Elements (bagian bentuk arsitektur ), bermakna bahwa kita harus memperlakukan objek sebagai dimensi kesebandingan.
Melahirkan konsep  :
o  Mass (massa),  Bentuk wujud tiga dimensi yang terpisah dari lingkungan
o  Space (ruang), Volume batas-batas permukaan di sekeliling massa
o  Surface (permukaan), batas massa dan ruang
  • Relations , bahwa kita menterjemahkan saling keterhubungan ini diantara dimensi-dimensi
  • Capacity of the structure, kelayakan untuk mendukung tugas bangunan
  • Valuable, nilai yang dikandung yang mengantarkan kepada rasa manusia untuk mengalami ruang.

3. Metoda Tipikal
  • Studi tipe bangunan saat ini telah menjadi pusat perhatian para sejarawan arsitektur. Hal ini dapat dipahami karena desain akan menjadi lebih mudah dengan mendasarkannya pada type yang telah standard, bukan pada innovative originals (keaslian inovasi). 
  • Studi tipe bangunan lebih didasarkan pada kualitas, utilitas dan ekonomi dalam lingkungan yang telah terstandarisasi dan  kesemuanya dapat terangkum dalam satu typologi 
  • Metode Tipikal, yaitu suatu pendekatan yang mempunyai uraian urutan secara tersusun. Contoh. Bangunan sekolah, tipe yang ada ialah seperti ruang kelas, ruang guru,ruang kepala sekolah, ruang kesenian,  lab, perpustakaan, kantin, gudang, toilet. 
4. Metoda Terukur
  • Kritik Pengukuran menyatakan satu penggunaan bilangan atau angka hasil berbagai macam observasi sebagai cara menganalisa bangunan melalui hukum-hukum matematika tertentu.
  • Norma pengukuran digunakan untuk memberi arah yang lebih kuantitatif. Hal ini sebagai bentuk analogi dari ilmu pengetahuan alam.
  • Pengolahan melalui statistik atau teknik lain akan mengungkapkan informasi baru tentang objek yang terukur dan wawasan tertentu dalam studi.
  • Bilangan atau standard pengukuran secara khusus memberi norma bagaimana bangunan diperkirakan pelaksanaannya.
  • Standardisasi pengukuran dalam desain bangunan dapat berupa :
Ukuran batas minimum atau maksimum, Ukuran batas rata-rata (avarage), Kondisi-kondisi yang dikehendaki
Contoh : Bagaimana Pemerintah daerah melalui Peraturan Tata Bangunan menjelaskan beberapa sandard
normatif : Batas maksimal ketinggian bangunan, sempadan bangunan, Luas terbangun, ketinggian pagar yang diijinkan
  • Adakalanya standard dalam pengukuran tidak digunakan secara eksplisit sebagai metoda kritik karena masih belum cukup memenuhi syarat kritik sebagai sebuah norma
Contoh :
Bagaimana Huxtable menjelaskan tentang kesuksesan perkawinan antara seni di dalam arsitektur dengan bisnis investasi konstruksi yang diukur melalui standardisasi harga-harga.
  • Norma atau standard yang digunakan dalam Kritik pengukuran yang bergantung pada ukuran minimum/maksimum, kondisi yang dikehendaki selalu merefleksikan berbagai tujuan dari bangunan itu sendiri.
  • Tujuan dari bangunan biasanya diuraikan dalam tiga ragam petunjuk sebagai beikut:
  1. Tujuan Teknis ( Technical Goals)
  2. Tujuan Fungsi ( Functional Goals)
  3. Tujuan Perilaku ( Behavioural Goals)


Sumber :
- http://anugrah-archblog09.blogspot.co.id/2013/02/kritik-arsitektur-metode-kritik-normatif.html